Kamis, 04 Februari 2010
Senin, 29 September 2008
Children Phenomenon
Ada yang lain ketika melihat anak-anak kecil Indonesia yang berada disekeliling kita hari-hari ini. Coba, bisa tebak apa perbedaannya dengan anak-anak sekitar 10-15 tahun yang lalu ? Lucu? Imut-imut? Lugu? Tenunya bukan. Karena (mungkin) kapanpun yang namanya anak kecil rata-rata memiliki sifat seperti itu. Lantas apa yang membedakan?
Saya/ penulis memperhatikan bahwa anak-anak kecil hari ini mempunyai sifat berani. Ya... berani. Berani dalam mengungkapkan pendapatnya tanpa harus dihantui oleh takut salah, malu, ataupun delusi-delusi lain yang membuatnya enggan mengeluarkan pendapatnya.
Penyebab fenomena ini mungkin sangat beragam. Bisa saja hal ini disebabkan semakin meningkatnya kualitas asupan gizi yang diberikan kepada mereka (seiring berjalannya waktu peradaban dunia), ataupun meningkatnya kualitas pendidikan orang tua, maupun informasi yang beredar. Dan tentunya perlu penjelasan ilmiah untuk mengungkap ini semua.
Fenomena ini merupakan hal yang menarik dan penting untuk diperhatikan. Mengapa demikian?
Pertama,Ssikap berani seolah telah hilang dari diri sebagian orang dewasa ini. Sebagai mana diungkap diatas, berani disini bukan berarti hanya sebatas unjuk kebolehan fisik yang diharapkan membuat orang menjadi takut dan merasa kerdil dihadapannya. Maka hilangnya keberaniaan disini berarti hilangnya keberanian dalam mengungkapkan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah.
Seorang tokoh besar bernama Hasan al-Banna pernah mengkritisi sikap plin-plan yang dimiliki oleh sebagian orang timur dalam memegang prinsip kebenaran yang dianutnya. Beliau mengutarakan bahwa disuatu waktu sebagaian kita memegang prinsip yang diyakini dengan sangat erat, sehingga seolah bila diajak untuk menyeberangi samudera yang luas maka kita akan menyanggupinya. Namun disaat yang lain seolah tekad membara itu seakan pudar ketika ditempa oleh palu-palu kehidupan.
Yang lebih ironis lagi adalah ketika fenomena ketidak beranian ini menjangkiti institusi-institusi pendidikan, baik sekolah maupun kampus. Hal ini bisa dilihat dari minimnya semangat/ partisipasi murid ketika diadakan diskusi kelas. Padahal kalau kita (sebagai pelajar) mau merenung kembali, apakah adalah suatu hal yang nista bila seorang pelajar yang notabene masih dalam proses pembelajaran melakukan kesalahan?
Maka delusi-delusi (ketakutan akan ’salah’) -yang seolah membudaya pada diri pelajar bangsa kita saat ini- mungkin merupakan alasan mengapa banyak asset bangsa ini yang selonong boi pergi dari genggaman, sehingga nasib bangsa ini makin terpuruk harkat dan martabatnya.
Oleh karena itu keberanian anak-anak ini dapat menjadi ibroh bagi kita (para orang-orang dewasa), sekaligus harapan bagi bangsa ini kedepan untuk diangkat kerhormatannya kearah yang sepantasnya.
Kedua, budaya sikap berani ini penting untuk kita kembali hayati dan terapkan dalam kehidupan –sebagaimana alasan diatas, sekaligus perlu untuk dilestarikan bagi generasi-generasi mendatang. Hal ini disebabkan budaya sikap positif ini sangat mungkin ”hilang kembali” dari budaya bangsa ini. Fenomena ”hilangnya kembali” budaya berani ini tentunya masih belum kita lupakan akibat ulah para diktator-diktator negeri ini dimasa lampau. Dimana saat-saat itu orang-orang yang berani dianggap sebagai musuh negara.
Maka sekarang dan kedepan adalah tugas para orang dewasa untuk menghindarkan negeri ini dari diktator-diktator baru, seperti diktator imperialis, diktator pemikiran yang tidak bertanggung jawab, diktator keserakahan, diktator kebusukan, dan diktator-diktator negatif lainnya. Sehingga budaya berani ini dapat terus mengobarkan bendera keberaniannya di negeri ini, dan menjadi ciri khas bangsa ini. Dimana keberanian yang bertanggung jawab tentunya...
Kamis, 08 Mei 2008
(MUHAMMAD ABDUH)
Laporan BPS (Juli 2007) menunjukkan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan Maret 2007 sebesar 37,17 juta (16,58%). Terjadi penururnan sebesar 1.17% dibandingkan Maret 2006 yang mencapai 39.30 juta jiwa. Terlepas dari polemik mengenai standar penghitungan angka-angka tersebut, namun yang pasti laporan diatas menunjukkan masih begitu besarnya orang yang terkena bencana kemiskinan di negeri ini.
Factor-faktor penyebab
”Maka tatkala mereka melupakan perinagatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun Membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Al-an’Am: 44).
”Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami Selamatkan orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami Timpakan kepada orang-orang yang zalim Siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Al-A’raf: 165)
”Mengapa Allah akan Menyiksamu, jika kamubersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nissa’: 147)
”Dia (Balqis) berkata: ’sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (An-Naml: 34)
”.....Dan sekiranya Allah tiada Menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi, dan mesjid-mesjid yang didalamnya banyak disebut Nama Allah. ....” (Al-Hajj: 40)
” ...... . Seanadainya Allah tidak Menolah (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. ....” (Al-Baqarah: 251)
” Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami Jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka, kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-An’am: 108)
”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di Sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)
”Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (muhammad) berada diantara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan Mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal: 33)
Melihat kondisi yang memperihatinkan ini, diperlukan kesadaran dari berbagai pihak dalam tubuh ummat ini dalam rangka semangat bersama untuk bangkit memecahkan berbagai permasalahan tersebut, agar harga diri ummat dan bangsa ini dapat dikembalikan sesuai fitrahnya. ”Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu beriman.” (Ali-Imran: 139).
Maka dari itu diperlukan suatu cara dalam rangka survival project (proyek kebangkitan) tersebut. ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan(cara) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Ma’idah: 35).
Allah telah menggariskan dalam Al-qur’an bahwa jalan (cara) yang diperlukan suatu umat (bangsa) adalah dengan menjadi bagian pada suatu barisan pergerakan kebangkitan ummat yang terorganisir dengan baik (serta sesuai Al-qur’qn dan sunnah), yang bertujuan untuk membentuk suatu masyarakat yang madani (baca: Islami).; ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (ali-’Imran: 104). ” Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di Jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4).
Semoga dengan ini janji Allah akan segera terwujud: ”Dan sesungguhnya telah Kami tulis dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwa sanya bumi ini di pusakai Hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Al-Anbiya’: 105)
Wallahu a’lam bishawab
v BPS 2007: Tingkat kemiskinan Indonesia, 2 Juli 2007.
v Gatra.Com, 26 Oktober 2007.
v Manhaj 1247 KAMMI.
Oleh: Muhammad Abduh
Sebagai muslim kita tentunya menjadikan Allah sebagai sandaran dan tujuan setiap aktivitas. Allah berfirman:
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 8)
”......... Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. .............” (Al-Baqarah: 165)
Rasa cinta inilah yang menjaga Tawazunitas (keseimbangan) seorang muslim dalam menjalankan hidupnya-baik untuk masalah dunia maupun akhiratnya. Sehingga tidak ada sesuatu yang membuat seorang mukmin terlalu melambung tinggi hingga lupa daratan. Atau sebaliknya terlalu bersedih, putus asa dan hilang harapan untuk hidup. Hal ini diisyaratkan baginda Rasulullah ketika memuji kepribadian seorang mukmin:
”Hebat sekali kepribadian orang mukmin itu karena setiap kejadian yang menimpa dirinya dianggap baik, hal ini tidak mungkin ada pada pribadi selain mukmin. Kalau ia memperoleh kenikmatan bersyukur, yang dengan syukurnya memperoleh sesuatu yang lebih baik. Dan kalaumenderita kesusahan bersabar, yang dengan sabarnya itu menjadi penghibur baginya.” (HR. Muslim)
Kecintaan terhadap sesuatu hal memerlukan suatu bukti. Kita baru bisa dikatakan mencintai orang tua, bila kita telah menunjukkan kepatuhan kita kepada mereka. Seorang suami membuktikan cintanya dengan memenuhi keinginan istriya yang sedang ngidam duren, walaupun saat itu masih musim rambutan. Begitu juga kecintaan kita pada Allah baru bisa dibuktikan ketika kita telah pasrahkan diri dan mau berkorban untuk-Nya. Allah berfirman:
” Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hamba-Nya.” (Al-baqarah: 204)
Maka seorang mukmin adalah yang menghambakan diri secara total kepada Allah. Hal itulah yang menurut Ustadz Sayyid Quthb makna penghambaan diri yang tersirat dalam syahadat laa ilaaha illallah. Dimana tata cara penghambaan ini sepenuhnya diserahkan kepada Rasulullah, sebagaimana yang tersirat dalam kalimat kedua syahadat ini , yaitu Muhammadar-raulullah ’Muhammad adlah utusan Allah.
Shibghah Allah (Celupan Allah)
Untuk mengobati luka umumnya digunakan kapas dan cairan pembersih untuk mengobatinya. Bila seseorang yang terluka tersebut dihadapkan pada tiga buah cairan yang terdiri atas cairan limun (sirop), Alkohol/ zat antiseptic, dan baygon/ pembasmi hama, tentunya orang tersebut akan memilih cairan alkohol/ zat antiseptic, dikarenakan dalam kondisi tersebut zat itulah yang dibutuhkan.
Bila kapas itu diibaratkan manusia, maka Alkohol lah yang bisa diumpamakan sebagai celupan Allah. Hal ini disebabkan karena celupan Allahlah yang paling ampuh untuk membimbing kehidupan manusia, ” Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah?.....” (Al Baqarah: 138). Seorang muslim memilih celupan Allah tersebut sebagai pewarna kehidupannya, dan (celupan Allah) ini tentunya dipilih muslim atas dasar kecintaan keridhaan serta keyakinan akan arahan-arahan Allah selama hidup didunia –sesuai dengan ikrar Syahadat yang diucapkannya.
Allah – Sebagai Rabb (Tuhan)
Sebagaimana telah kita maklumi bersama bahwa Allah adalah pusat kecintaan dari seorang mukmin. Kecintaan inilah yang membuat ia rela mengorbankan diri dan hartanya pada jalan Allah. Hal tersebut tiada lain hanya untuk mencari ridha-Nya, karena ia yakin disanalah ia temukan kebahagiaan hakiki. Allah berfirman: ”Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Al-Lail: 20-21)
Konsekwensi dari kalimat muhammadar-rasulullah adalah segala tata cara penghambaan kepada Allah adalah mengikuti rasul. Oleh karena itu peri hidup seorang mukmin adalah yang terinspirasikan dari perihidup Rasulullah SAW. hal ini juga merupakan bukti cinta seorang mukmin terhadap Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Al-Ahzab: 21, ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Islam adalah agama yang diturunkan dan satu-satunya yang diridhai Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.......” (Ali Imran: 19). Maka menjadi sebuah keharusan bagi muslim untuk memperdalam ajaran islam agar nilai-nilainya benar-benar mendarah daging dalam dirinya.
Adapun orang-orang yang telah mensibghah dirinya dengan hal diatas maka akan tampak perubahan-perubahan dalam dirinya, pertama motivasi/ niat dari seorang mukmin itu akan selalu senantiasa diluruskan untuk Allah. Kedua pola pikir dari seorang mukmin itu adalah pola pikir yang berorientasi pada nilai-nilai moral islam yang tidak diragukan kebenarannya. Sehingga dalam tataran praksis metode hidup dalam melakukan aktivitas adalah metode yang islami, yang jauh dari nilai-nilai penipuan, kecurangan, kebobrokan, dan kebusukan.
Urgensinya Sibghah Allah
Perkembangan peradaban manusia baik fisik maupun non-fisik membawa kemaslahatan yang besar bagi kehidupan manusia. Namun demikian perkembangan ini juga membawa efek negatif yang tidak kalah besarnya. Efek negatif ini sebenarnya bukan karena perkembangan peradaban itu yang negatif, tetapi karena manusia sebagai pengusung peradaban tersebut memiliki hawa nafsu liar yang harus senantiasa dikotrol. Maka disinilah diperlukan sibghah Allah dalam mengendalikan peri hidup manusia sehingga berjalan sesuai dengan fitrahnya.
” Fenomena BBM, dan Anti Tesisnya”
Implikasi-implikasi Kebijakan
Kenaikan BBM memang selalu menimbulkan tragedi. Kita tentunya masih ingat awal pemicu kerusuhan oleh people power tepat sepuluh tahun yang lalu, yang berujung pada reformasi dimulai oleh kebijakan yang serupa yang mengakibatkan inflasi sebesar. Kita juga masih ingat sekitar 2-3 tahun yang lalu ketika kenaikkan BBM yang mencapai 100% mengakibatkan peningkatan biaya hidup yang porsentasenya sebesar itu juga.
Saran
Paparan singkat diatas mungkin hanyalah sebagian kecil implikasi-implikasi yang mungkin terjadi akibat kondisi ini. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah strategis dalam menyikapi hal ini. Kalau boleh diterima, ada beberapa saran kebijakan yang mungkin dilakukan pemerintah:
Jangka pendek
Untuk mengobati rasa ’sakit’ masyarakat akibat kejutan BBM ini maka pemerintah dirasa perlu melakukan pertolongan-pertolongan awal. Diantaranya adalah penjagaan atas penimbunan bahan kebutuhan pokok oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang dapat menjadikan harga lebih menggila kenaikkannya. Perlu juga diperhatikan bahwa selain kebutuhan pokok masyarakat pada umumnya (seperti beras, BBM, dll), petani secara khusus telah mengalami ’kehilangan’ kebutuhan pokok akan pukuk semenjak awal. Oleh karena itu, tanpa pengawasan yang extra maka bisa diasumsikan bahwa pupuk tersebut akan benar-benar hilang.
Jangka panjang
Strategi jangka panjang yang dimaksud adalah Strategi Revitalisasi pertanian. Mungkin strategi ini terdengar jargon. Tetapi memang dirasa inilah satu-satunya strategi untuk menciptakan kondisi SumBar yang lebih tahan –baik segi ekonomi maupun sosialnya.
Untuk menjalankan strategi ini (tentunya) dibutuhkan kebijakan strategis ilmiah yang lebih mantap, atau dengan kata lain pemerintah daerah harus mengenyampingkan terlebih dahulu pengambilan kebijakan yang Try and Error. Maka dalam hal ini pelibatan kaum akademisi (Civil Society) sebagai mitra pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan tersebut bisa menjadi alternatif nya. Wallahualam
Alamat : Jalan Raya Kampus Unand, Pemondokan Keluarga Limau Manis.
