Senin, 29 September 2008

Children Phenomenon

Ada yang lain ketika melihat anak-anak kecil Indonesia yang berada disekeliling kita hari-hari ini. Coba, bisa tebak apa perbedaannya dengan anak-anak sekitar 10-15 tahun yang lalu ? Lucu? Imut-imut? Lugu? Tenunya bukan. Karena (mungkin) kapanpun yang namanya anak kecil rata-rata memiliki sifat seperti itu. Lantas apa yang membedakan?

Saya/ penulis memperhatikan bahwa anak-anak kecil hari ini mempunyai sifat berani. Ya... berani. Berani dalam mengungkapkan pendapatnya tanpa harus dihantui oleh takut salah, malu, ataupun delusi-delusi lain yang membuatnya enggan mengeluarkan pendapatnya.

Penyebab fenomena ini mungkin sangat beragam. Bisa saja hal ini disebabkan semakin meningkatnya kualitas asupan gizi yang diberikan kepada mereka (seiring berjalannya waktu peradaban dunia), ataupun meningkatnya kualitas pendidikan orang tua, maupun informasi yang beredar. Dan tentunya perlu penjelasan ilmiah untuk mengungkap ini semua.

Fenomena ini merupakan hal yang menarik dan penting untuk diperhatikan. Mengapa demikian?

Pertama,Ssikap berani seolah telah hilang dari diri sebagian orang dewasa ini. Sebagai mana diungkap diatas, berani disini bukan berarti hanya sebatas unjuk kebolehan fisik yang diharapkan membuat orang menjadi takut dan merasa kerdil dihadapannya. Maka hilangnya keberaniaan disini berarti hilangnya keberanian dalam mengungkapkan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah.

Seorang tokoh besar bernama Hasan al-Banna pernah mengkritisi sikap plin-plan yang dimiliki oleh sebagian orang timur dalam memegang prinsip kebenaran yang dianutnya. Beliau mengutarakan bahwa disuatu waktu sebagaian kita memegang prinsip yang diyakini dengan sangat erat, sehingga seolah bila diajak untuk menyeberangi samudera yang luas maka kita akan menyanggupinya. Namun disaat yang lain seolah tekad membara itu seakan pudar ketika ditempa oleh palu-palu kehidupan.

Yang lebih ironis lagi adalah ketika fenomena ketidak beranian ini menjangkiti institusi-institusi pendidikan, baik sekolah maupun kampus. Hal ini bisa dilihat dari minimnya semangat/ partisipasi murid ketika diadakan diskusi kelas. Padahal kalau kita (sebagai pelajar) mau merenung kembali, apakah adalah suatu hal yang nista bila seorang pelajar yang notabene masih dalam proses pembelajaran melakukan kesalahan?

Maka delusi-delusi (ketakutan akan ’salah’) -yang seolah membudaya pada diri pelajar bangsa kita saat ini- mungkin merupakan alasan mengapa banyak asset bangsa ini yang selonong boi pergi dari genggaman, sehingga nasib bangsa ini makin terpuruk harkat dan martabatnya.

Oleh karena itu keberanian anak-anak ini dapat menjadi ibroh bagi kita (para orang-orang dewasa), sekaligus harapan bagi bangsa ini kedepan untuk diangkat kerhormatannya kearah yang sepantasnya.

Kedua, budaya sikap berani ini penting untuk kita kembali hayati dan terapkan dalam kehidupan –sebagaimana alasan diatas, sekaligus perlu untuk dilestarikan bagi generasi-generasi mendatang. Hal ini disebabkan budaya sikap positif ini sangat mungkin ”hilang kembali” dari budaya bangsa ini. Fenomena ”hilangnya kembali” budaya berani ini tentunya masih belum kita lupakan akibat ulah para diktator-diktator negeri ini dimasa lampau. Dimana saat-saat itu orang-orang yang berani dianggap sebagai musuh negara.

Maka sekarang dan kedepan adalah tugas para orang dewasa untuk menghindarkan negeri ini dari diktator-diktator baru, seperti diktator imperialis, diktator pemikiran yang tidak bertanggung jawab, diktator keserakahan, diktator kebusukan, dan diktator-diktator negatif lainnya. Sehingga budaya berani ini dapat terus mengobarkan bendera keberaniannya di negeri ini, dan menjadi ciri khas bangsa ini. Dimana keberanian yang bertanggung jawab tentunya...

Tidak ada komentar: