Kamis, 08 Mei 2008

SIBGHAH ALLAH (Celupan Allah)
Oleh: Muhammad Abduh

Setiap manusia memerlukan sebuah rely point (sandaran) dan orientasi/ tujuan dalam hidup, sehingga hidupnya tidak menjadi ‘hambar’. Tujuan dan sandaran tersebutlah yang memotivasi para anak adam untuk melakukan aktivitas-aktivitas dalam siklus hidupnya. Berbagai hal dipilih untuk dijadikan motivasi tersebut. Ada yang menjadikan hal-hal materi dan ada pula yang menjadikan hal-hal spiritual sebagai sandaran dan tujuan.
Cinta
Sebagai muslim kita tentunya menjadikan Allah sebagai sandaran dan tujuan setiap aktivitas. Allah berfirman:
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (Al-Anfal: 8)
”......... Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. .............” (Al-Baqarah: 165)
Rasa cinta inilah yang menjaga Tawazunitas (keseimbangan) seorang muslim dalam menjalankan hidupnya-baik untuk masalah dunia maupun akhiratnya. Sehingga tidak ada sesuatu yang membuat seorang mukmin terlalu melambung tinggi hingga lupa daratan. Atau sebaliknya terlalu bersedih, putus asa dan hilang harapan untuk hidup. Hal ini diisyaratkan baginda Rasulullah ketika memuji kepribadian seorang mukmin:
”Hebat sekali kepribadian orang mukmin itu karena setiap kejadian yang menimpa dirinya dianggap baik, hal ini tidak mungkin ada pada pribadi selain mukmin. Kalau ia memperoleh kenikmatan bersyukur, yang dengan syukurnya memperoleh sesuatu yang lebih baik. Dan kalaumenderita kesusahan bersabar, yang dengan sabarnya itu menjadi penghibur baginya.” (HR. Muslim)
Ridha
Kecintaan terhadap sesuatu hal memerlukan suatu bukti. Kita baru bisa dikatakan mencintai orang tua, bila kita telah menunjukkan kepatuhan kita kepada mereka. Seorang suami membuktikan cintanya dengan memenuhi keinginan istriya yang sedang ngidam duren, walaupun saat itu masih musim rambutan. Begitu juga kecintaan kita pada Allah baru bisa dibuktikan ketika kita telah pasrahkan diri dan mau berkorban untuk-Nya. Allah berfirman:
” Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hamba-Nya.” (Al-baqarah: 204)
Maka seorang mukmin adalah yang menghambakan diri secara total kepada Allah. Hal itulah yang menurut Ustadz Sayyid Quthb makna penghambaan diri yang tersirat dalam syahadat laa ilaaha illallah. Dimana tata cara penghambaan ini sepenuhnya diserahkan kepada Rasulullah, sebagaimana yang tersirat dalam kalimat kedua syahadat ini , yaitu Muhammadar-raulullah ’Muhammad adlah utusan Allah.
Shibghah Allah (Celupan Allah)
Untuk mengobati luka umumnya digunakan kapas dan cairan pembersih untuk mengobatinya. Bila seseorang yang terluka tersebut dihadapkan pada tiga buah cairan yang terdiri atas cairan limun (sirop), Alkohol/ zat antiseptic, dan baygon/ pembasmi hama, tentunya orang tersebut akan memilih cairan alkohol/ zat antiseptic, dikarenakan dalam kondisi tersebut zat itulah yang dibutuhkan.
Bila kapas itu diibaratkan manusia, maka Alkohol lah yang bisa diumpamakan sebagai celupan Allah. Hal ini disebabkan karena celupan Allahlah yang paling ampuh untuk membimbing kehidupan manusia, ” Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah?.....” (Al Baqarah: 138). Seorang muslim memilih celupan Allah tersebut sebagai pewarna kehidupannya, dan (celupan Allah) ini tentunya dipilih muslim atas dasar kecintaan keridhaan serta keyakinan akan arahan-arahan Allah selama hidup didunia –sesuai dengan ikrar Syahadat yang diucapkannya.
Ada tiga hal sibghah (celupan) yang mewarnai diri seorang mukmin;
Allah – Sebagai Rabb (Tuhan)
Sebagaimana telah kita maklumi bersama bahwa Allah adalah pusat kecintaan dari seorang mukmin. Kecintaan inilah yang membuat ia rela mengorbankan diri dan hartanya pada jalan Allah. Hal tersebut tiada lain hanya untuk mencari ridha-Nya, karena ia yakin disanalah ia temukan kebahagiaan hakiki. Allah berfirman: ”Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Al-Lail: 20-21)
Muhammad – Sebagai Rasul
Konsekwensi dari kalimat muhammadar-rasulullah adalah segala tata cara penghambaan kepada Allah adalah mengikuti rasul. Oleh karena itu peri hidup seorang mukmin adalah yang terinspirasikan dari perihidup Rasulullah SAW. hal ini juga merupakan bukti cinta seorang mukmin terhadap Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam surat Al-Ahzab: 21, ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Islam – Sebagai agama
Islam adalah agama yang diturunkan dan satu-satunya yang diridhai Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.......” (Ali Imran: 19). Maka menjadi sebuah keharusan bagi muslim untuk memperdalam ajaran islam agar nilai-nilainya benar-benar mendarah daging dalam dirinya.
Adapun orang-orang yang telah mensibghah dirinya dengan hal diatas maka akan tampak perubahan-perubahan dalam dirinya, pertama motivasi/ niat dari seorang mukmin itu akan selalu senantiasa diluruskan untuk Allah. Kedua pola pikir dari seorang mukmin itu adalah pola pikir yang berorientasi pada nilai-nilai moral islam yang tidak diragukan kebenarannya. Sehingga dalam tataran praksis metode hidup dalam melakukan aktivitas adalah metode yang islami, yang jauh dari nilai-nilai penipuan, kecurangan, kebobrokan, dan kebusukan.
Urgensinya Sibghah Allah
Perkembangan peradaban manusia baik fisik maupun non-fisik membawa kemaslahatan yang besar bagi kehidupan manusia. Namun demikian perkembangan ini juga membawa efek negatif yang tidak kalah besarnya. Efek negatif ini sebenarnya bukan karena perkembangan peradaban itu yang negatif, tetapi karena manusia sebagai pengusung peradaban tersebut memiliki hawa nafsu liar yang harus senantiasa dikotrol. Maka disinilah diperlukan sibghah Allah dalam mengendalikan peri hidup manusia sehingga berjalan sesuai dengan fitrahnya.

Tidak ada komentar: